-->

Cerita Pendek Fiksi: Mata Sebelah Yang Tertutup. Novel sejarah Original.


Contoh Teks Cerita Sejarah (Novel Sejarah Fiksi): Mata Sebelah Yang Tertutup. Teks Cerita Original.

Hallo sobat pencari pengetahuan, kembali lagi bersama admin di Caripengetahuan-Id.com. Bagaimana nih kabar sobat hari ini ? Admin harapkan selalu dalam keadaan yang baik dan pastinya sehat selalu ya. Nah pada kesempatan kali ini admin mau membahas salah satu bab yabg ada di kelas 12 nih, khususnya bagi yang memakai kurikulum 2013 revisi. Sobat tau apa yang kita akan bahas ? Yupss...Teks Cerita Sejarah. Apakah sobat sudah tau definisinya ? Atau apakah sobat sudah dapat membedakan teks cerita sejarah dan teks sejarah ? Admin yakin nih sobat sudah tau.... Tapi bagi sobat yang belum tau bisa cari di google ya... Banyak kok.

Sering pada bab ini guru guru memberikan tugas kepada anak muridnya untuk membuat teks cerita sejarah hasil imajinasi mereka sendiri.

Pada artikel edisi hari ini admin ingin memberikan referensi bagi sobat yang ingin membuat teks cerita sejarah ya. Dan juga artikel edisi hari ini adalah "Yuk Baca Cerita" Bagi kalian yang ingin ceritanya di terbitkan Di CariPengetahuan-Id.Com bisa mengirimkan Cerita mu yang kamu buat sendiri lewat waloohcorp@gmail.com dan juga jangan lupa untuk menyertakan sosial media sobat juga ya, supaya bisa kami tuliskan siapa yang mengarang cerita yang kami terbitkan.

Suasana, tokoh, kejadian di dalam teks dibawah ini adalah rekayasa dan tidak ada sedikit pun tujuan untuk menyindir ataupun menyudutkan pihak pihak tertentu. Cerita Ini Hanya Fiktif Belaka. Jika Ada Kesamaan Nama Tokoh, Tempat Kejadian Ataupun Cerita, Itu Adalah Kebetulan Semata Dan Tidak Ada Unsur Kesengajaan.

Pada penasaran ya sobat bagaimana ceritanya. Yuk kita baca bersama sama.

Mata Sebelah Yang Tertutup

Saya kisahkan pada 20 tahun lalu sekitar tahun 2001 saya tinggal di kota banjarmasin. Tepat di kelurahan Alalak Utara. Tapi saya lebih suka menyebutnya kampung. “Anwar” itulah biasanya teman saya memanggil saya, umur saya saat itu sekitar 8 tahun, dan saya masih berada di kelas 3 sekolah dasar. Saya senang sekali terlahir di keluarga yang sederhana dan mempunyai teman teman yang banyak. Tapi walaupun saya mempunyai banyak teman tapi hanya sedikit teman yang suka ajak bermain.

      Setiap hari setelah pulang sekolah kami selalu bersepeda keliling kampung dan jika kami sudah kelelahan bermain sepeda kami sering duduk di pinggir sungai untuk bersantai, kami membicarakan bermacam macam hal, kadang juga kami membicarakan cita cita kami. Teman teman yang sangat suka saya ajak bermain ini terdiri dari tiga orang yang pertama namanya “ “Budi”, “Dody” dan “Amat”. Tiga orang ini lebih suka saya sebut dengan sahabat saya.

      Budi ini adalah orang yang kekurangan secara ekonomi, ayahnya sudah meninggal ketika ia berusia 2 tahun karena kecelakaan ketika bekerja sebagai buruh di sebuah proyek pembanguan hotel. Setelah ayahnya budi ini meninggal ibunya lah yang menggantikan peran ayah sekaligus ibu. Ibu Budi ini bekerja sebagai pembantu di rumah orang kaya. Rumah budi ini kecil, rapuh dan letaknya yang berada di ujung jalan. Kata ibu saya, Budi itu bukan asli orang sini, tapi ayah dan ibunya budi itu merantau ke sini demi mengadu nasib di kota besar.
Dody adalah anak seorang pegawai negeri sipil di kantor pencatatan sipil dan ibunya adalah seorang karyawan Bank Swasta di Banjarmasin. Kalo bisa di bilang Dody adalah yang paling kaya di antara kami bertiga. Amat adalah orang yang sederhana, ayahnya bekerja sebagai buruh dan ibunya bekerja sebagai pelayan di rumah makan.

      Ketiga sahabat saya ini satu kelas dengan saya, kebetulan hari ini adalah hari senin, hari ini kami mempunyai 4 mata pelajaran, jadi jam pelajaran pertama adalah pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, jam pelajaran yang kedua adalah bahasa Indonesia, yang ketiga adalah matematika dan yang terakhir adalah ilmu pengetahuan alam.

      Untuk jam pelajaran pertama kami mempelajari hukum hukum yang ada di Indonesia. Kata guru kami pada waktu itu, banyak sekali pelanggaran terhadap hukum yang telah di tetapkan di Indonesia. Setelah guru saya menjelaskan secara detail dan materi yang disampaikan oleh guru sayapun telah habis untuk hari ini. Dan disisa jam pelajaran pertama ini kami gunakan untuk berdiskusi dengan guru kami tentang topik yang lagi hangat hangatnya di bicarakan pada akhir akhir ini, yaitu seorang menteri yang mengambil uang rakyat demi keuntungan pribadi.

      Kata guru kami, penjara bagi para koruptor itu berbeda dengan penjara yang lain. Walaupun pejabat melakukan kesalahan yang fatal seperti merugikan rakyat, namun tetap saja mereka mendapatkan keringanan. Seperti pada kasus yang kami ceritakan ini, sang terpidana mendapatkan sanksi selama 4 tahun masa tahanan. Tapi bukan hanya itu sel tahanannya pun terfasilitasi. Jadi bisa dibilang mereka di tahan bukan-secara konotasi menebus kesalahan yang dilakukan mereka.

      Setelah jam pertama selesai, guru bahasa Indonesia datang ke kelas kami untuk mengajar jam pelajaran kedua. Hari ini kami di berikan tugas untuk menjelaskan mau jadi apa kami dimasa depan dan apa impian kami di masa depan. Setelah kami selesai kami disuruh maju kedepan kelas untuk membacakan apa yang kami tulis tadi.

      Tapi sangat kesian sekali untuk Budi, dia menuliskan impian yang sangat tinggi bagaikan semut yang menatap langit. Budi ini sering di jadikan objek perundungan karena impiannya tidak sesuai dengan keadaannya saat ini yang miskin.

      Pelajaran yang kedua telah selesai, tapi guru bahasa Indonesia saya berpesan bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk diwujudkan, jadi jangan menyerah pada keadaan apa pun yang menghalangi mu. Setelah itu guru bahasa Indonesia keluar, baru beberapa langkah keluar. Guru matematika kamipun memasuki kelas, pada pelajaran kali ini kami diberikan tugas. Di antara kami bertiga Budilah yang paling jago matematika.

      Tidak terasa pelajaran matematika pun telah usai, ada guru selanjutnya pun datang. Kali ini untuk pelajaran ilmu pengetahuan alam kita disuruh mencatat apa yang di jelaskan guru di depan. Tak lama kemudian bel pulang sekolah pun berbunyi. Dan pada sore harinya kami bermain bersama di lapangan dekat masjid.

      Satu tahun telah berlalu, ternyata berita di televisi menyiarkan tentang sebuah virus baru yang menginfeksi ratusan orang di timur tengah, semakin hari semakin banyak orang yang terjangkit, dan akhirnya virus ini menjangkiti Indonesia. Selama 3 bulan pertama, pemerintah sangat gencar melakukan larangan untuk berkumpul, bekerja, dan keluar rumah untuk keperluan yang tidak penting. Oleh karena itu banyak pekerja yang diliburkan, dan ada juga pekerja yang bekerja dari rumah. Banyak sekali orang orang yang takut dengan virus ini karena kemampuannya dalam menular sangatlah tinggi. Banyak perusaha besar yang memberhentikan karyawannya demi menekan pengeluaran perusahan ketimbang pemasukan perusahan yang sedikit karena para investor dan pembeli yang menurun. Hal ini juga berlaku pada majikannya Ibu Budi, yang secara sepihak memberhentikan ibunya budi karena takut tertular virus.

      Semenjak itu Ibunya Budi pun menjadi pengangguran, tetapi kabar gembiranya adalah pemerintah akan memberikan bantuan pangan dan uang setiap bulannya, setelah itu ketua RT pun mulai mendata penduduknya untuk mendapatkan bantuan pangan dan uang tersebut. Tapi secara tidak terduga keluarga Budi tidak di masukkan ke daftar yang akan menerima bantuan tersebut. Karena KTP Ibunya Budi berasal dari Kota Baru. Jadi jika hendak menerima bantuan, keluarga Budi pun harus pulang ke Kota Baru.

      Sungguh seperti ironi kehidupan, bagaimana bisa pulang kampung, duit saja tidak punya, buat makan saja susah, dan terlebih lagi masyarakat dari zona merah penyebaran virus dilarang untuk pulang ke kampung halaman. Dan banyak orang kampung sini pun tidak tau menau tentang keadaan mereka.

      Perekonomian Indonesia pun makin merosot, hal ini seiring dengan perekonomian keluarga Budi. Hampir setiap hari keluarga Budi pun kelaparan, karena tidak tahan menahannya, ibunya pun berusaha mencari beras yang ia pungut dari agen beras yang berasnya terjatuh di tanah, letak pasar ini tidak jauh dari kampung ini. Meskipun dia sudah mempunyai beras akan tetapi permasalahan lain pun muncul

      “bagaimana cara memasaknya ?” inilah pertanyaan yang muncul dalam benak Ibu budi, Ibunya budi tidak mempunyai kayu bakar untuk memasaknya.
Karena gelap mata, atau tidak tahan dengan rasa laparnya. Ibu Budi pun menebang pohon yang berukuran sedang di samping rumahnya yang ternyata itu adalah pohon kepunyaan tetangganya. Karena tetangganya keluarga budi ini merasa di rugikan oleh ibunya budi. Mereka pun langsung melaporkan Ibunya Budi ini ke kantor polisi.

      Setelah sekian banyak sidang yang dilakukan, akhirnya Ibunya Budi di tahan di penjara untuk waktu yang tidak sebentar, Ibu Budi dipenjara sekitar 5 tahun masa kurungan.

      Pada saat bersamaan, seorang pejabat tinggi negara terlibat kasus pengedaran narkoba dengan bandar narkoba. Dimana banyak berita di televisi memberitakan bahwa si pejabat tinggi negara ini membantu bandar narkoba untuk mengedarkan narkobanya dimasyarakat. Tapi seperti halnya kucing di dalam karung, tidak bisa ditahan untuk selamanya. Kelakuan bodoh dan merugikan mereka pun terbongkar. Mereka di bawa ke lembaga masyarakat untuk di adili. Alih alih di adili dengan tujuan untuk menjerakan, mereka di adili untuk sekedar membersihkan nama baik mereka di mata masyarakat.
Akhirnya mereka pun di masukkan ke dalam penjara, tapi yang anehnya pihak pengadilan tidak pernah menyebutkan untuk berapa lama mereka di tahan. Bagaimana bentuk sel penjara yang akan menahan mereka. Banyak berita burung yang menyebar kesana dan sesini.

      Ada yang menceritakan bahwa mereka di tahan hanya dalam kurun waktu 4 tahun sedangkan anak buah mereka yang tertangkap karena menjadi pengedar di masyarakat, dihukum dengan masa tahanan selama seumur hidup. Sedangkan pejabat negara ini hanya sebagai jalan untuk menghindari hukum dan sanksi yang berlaku dan bandar narkoba sebagai penyedia barang haram tersebut.
Seperti Pohon kelapa dan pohon cabai, yang tinggi batang pohonnya terpaut jauh. Demikianpun masa kurungan Ibunya budi yang terpaut jauh dari pada bandar narkoba dan pejabat tadi.

      Karena ibunya yang di tahan karena kasus pencurian, Budi pun di masukkan ke panti asuhan yang berada di luar kota. Hari itu adalah hari terakhir kami bersama Budi, bukan hanya ia akan pindah ke panti asuhan, tapi juga sekolah ia pun akan dipindahkan.

      Karena kami tau itu adalah hari terakhir kami bersama Budi, kami pun berkumpul untuk mengucapkan selamat tinggal dan semoga kita dapat bermain lagi suatu saat. Budi pun menangis dan ia pun mengungkapkan semua kekecewaannya. Tapi sekian banyak kata kata yang diucapkannya sembari terisak-isak karena manangis, saya mengingat beberapa kata kata budi

      “Kenapa Ibu saya di tahan selama 5 tahun sedangkan para setan berdasi itu Cuma 4 tahun ?” kata budi sambil mengungkapkan kekesalannya.
Dia berjanji akan membuat standar keadilan yang baru dan menciptakan tempat yang baik untuk hidup.

      Seperti kata kata khayalan yang mudah untuk di ucapkan oleh seorang anak anak tanpa harus berpikir betapa mustahilnya kata kata tersebut. Kamipun pada saat itu terlalu menanggapi perkataannya dan kami hanya memberikan nasehat kepadanya untuk selalu sabar dan mungkin itu adalah takdir yang maha kuasa.

      “Sabar ya Budi, mungkin ini adallah takdir dari maha kuasa, mungkin ada hikmahnya nya di balik semua kejadian ini” kata saya kepada budi yang sedang menangis.

      Setelah 5 tahun berselang saya mendapatkan beasiswa dari SMA bergensi di kota ini. Pada masa SMA ini kami mulai terpisah satu sama lain. Dody kembali melanjutkan sekolah di Bandung, Bandung adalah kampung halaman ayahnya Dody, sedangkan amat tetap ada di kota ini hanya saja kami beda sekolah. Dan mengenai Budi, saya sama sekali tidak mendapatkan kabar apa pun dari dia semenjak kami di sekolah dasar

      Setelah 4 tahun, saya pun memutuskan untuk kuliah di luat negeri, begitupula keluarga saya yang memutuskan untuk tinggal di luar negeri. keluarga saya telah mempersiapkan dengan matang rencana pindah ke luar negeri ini sudah dari jauh jauh hari.

      Waktupun berlalu sangat cepat, saat hendak ke bandara kami berangkat melalu transportasi kereta api, secara mengejutkam saya bertemu orang yang mukanya itu mirip dengan Budi, terus setelah itu saya tanya

      "Maaf mas, nama mas Budi ya ?" Tanya saya kepada orang itu

      "Iya, kok kamu tau". Jawab orang itu

      Saya berkata dalam hati bahwa pertemuan ini sangat tidak terduga, saya berkata "Saya Anwar, teman SD kamu".

      Dia menatap dengan muka yang terkejut.

      Kami pun mulai berjabat tangan dan berpelukan setelah itu kami mulai berbincang bincang bagaimana kehidupannya setelah ia di pindahkan ke panti asuhan. Jadi dia menceritakan bahwa setelah di dipindahkan ke panti asuhan di mulai hidup berkecukupan karena pihak pantilah yang memenuhi semua kebutuhannya.

      “Bud , bagaimana kabar ibu mu?”. Kata saya di sela sela pembicaraan.

      “Oh iya mengenai ibu saya, ibu saya sudah tenang kok”. Kata budi sembari memalingkan mukanya.

      “Maksudnya gimana Bud ?”. Saya tanya karena jawaban Budi itu sangat lah mempunya banyak arti.

      “Jadi semenjak Ibu saya di bebaskan dari masa tahanan, ibu saya mulai sakit sakitan dan sampai pada suatu saat dia pergi ke sisi tuhan”. Dia menjawab sambil menitikkan air mata.

      “Innalillah, maaf ya budi. Saya telah mengingatkan mu pada kejadian yang sagat menyakitkan”. Kata saya menanggapi budi.

      “Saya sangat kecewa sekali dengan hukun yang ada, seolah olah uang dan pengaruh menjadi tamengnya, kata orang orang negara ini adalah negara hukum. ”. Kata budi dengan percaya dirinya.

      “Iya, kamu benar. Banyak perkara hukum yang awalnya sangat panas untuk diperbincangkan, lama lama akan menjadi tidak jelas dan yang yang terpidana mendapatkan sanksi yang tidak sesuai dengan apa yang sudah ia perbuat”. Ujar saya sambil menatap budi

      “Suatu saat saya akan memberi mereka sebuah penderitaan yang saya rasakan selama ini, dengan ilmu pengetahuan saya akan membuat standar kehidupan yang baru” kata Budi dengan tatapan yang mengerikan.

      “ouhhh, sangat personal ya. Oh itu sudah dekat dengan stasiun tujuan saya” kata saya sambil mengalihkan topik perbincangan.

      Setelah saya sampai di stasiun yang saya tuju, saya pun berpamitan dengan Budi, dan kami pun berharap dapat bertemu lagi dilain kesempatan.

      Setelah hampir 4 tahun kemudian muncul berita di tv yang sangat menggemparkan, bom hydrogen telah meledakkan seluruh kota yang ada di Banjarmasin dan sekitarnya. Peristiwa ini memakan korban jiwa sekitar 1,5 juta penduduk dan lebih dari 20 juta penduduk terpapar radiasi. Dengan adanya berita tersebut, sontak membuat saya terdiam sejenak.

      Setelah saya terdiam cukup lama saya mulai memikirkan bagaimana keadaan teman teman saya yang ada di Indonesia. Saya pun mulai memutuskan untuk menelpon Dody untuk menanyakan kabar Dody, dan berharap kalau saja Dody mengetahui keadaan teman saya yang lain.

      “Hello dody, apakah benar Banjarmasin telah di ledakkan”. Tanya saya pertama kali tersambung dengan Dody

      “Hello, Anwar. Kemarin bom itu diledakkan, keadaan disini sangat mencekam dan kami masyarakat yang selamat dari kejadian itu di evakuasi ke tempat yang aman, meskipun kami tinggal di Bandung goncangan ledakan itu terasa sampai ke tempat kami. Tidak sampai disitu radiasinya pun menyebar sampai 2000 kilometer” sahut Dody dengan suara yang gemetar.

      “Siapa pelakunya atau kejadian ini adalah sebuah kecelakaan industri”. Tanya saya dengan penasaran.

      “kejadian ini bukan lah suatu kecelakaan melainkan perbuatan dari kelompok radikal anti-pemerintah yang ingin menebar penderitaan dan juga ketakutan” Jawab dody.

      "Kelompok radikal ?". Tanya saya dengan bingung

      "Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, kelompok anti pemerintah ini sering menunjukkan dirinya dan sering membuat kehancuran dan sekarang merekalah yang mengklaim bahwa ledakan itu adalah perbutan mereka. Dan yang paling mengejutkannya pimpinan kelompok itu adalah teman kita, Budi" Jawab Dody dengan nada yang sedikit traumatis

      "Budi ? Kenapa dia tega melakukan ini". Sahut saya dengan nada yang sedikit tidak percaya

      "Iya budi, sepertinya ia ingin membalas semua hal yang telah mengecewakannya sewaktu kecil". Jawab Dody.

      "..........." Saya langsung terdiam, saya ingat sewaktu dikereta 4 tahun silam Budi menceritakan keinginan untuk memberikan suatu penderitaan dan juga ingin membuat standar baru kehidupan.

      Hari ini tanggal 17 Juni 2021, tepatnya 19 tahun yang lalu bom hydrogen diledakkan di kota kelahiran saya atas dasar kekecewaan dan ledakan ini menghilangkan nyawa teman saya "Amat". Wajah Banjarmasin hari ini tidak berpenghuni dan wilayah Banjarmasin saat ini masuk ke daftar 5 tempat yang tidak bisa dikunjungi karena tingkat radiasinya yang sangat tinggi. Setelah ledakan itu terjadi saya dan Dody tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Budi lagi, Apakah dia merencanakan sesuatu hal yang besar......butuh waktu yang lama untuk mempersiapkannya......

~~~Tamat~~~
Pengarang M.Kaspul Anwar
Instagram @mkasplanwr

Akhir Kata

Menarik bukan sobat ceritanya, caripengetahuan-id.com akan updates terus setiap hari demi menyajikan informasi yang menarik dan pastinya informatif dengan bahasa yang santai. Jika artikel ini membantu sobat dan sobat mempelajari hal baru hari ini bisa sobat follow blog ini untuk mendapatkan notifikasi artikel baru ya.

nantikan ya sobat artikel artikel kami dan kami berharap artikel ini dapat menambah pengetahuan sobat apabila sobat mempelajari hal baru setelah sobat membaca artikel ini maka berikan kami like dan ikuti blog atau website ini ya.

Dan admin mau ngucapin terimakasih karena telah membaca artikel ini dan baca juga artikel kami yang lain ya

Dan jangan lupa jaga kesehatan sobat ya.... Bye .....Sampai Jumpa... Kita ketemu lagi di artikel admin selanjut ya.....

Baca juga

1 comment

  1. Whitenstein
    hallo terus baca artikel di caripengetahuan-Id ya